Dia seseorang yang berwatak keras, layaknya suku batak yang lain secara umum, suaranya pun kasar dan keras dengan logat batak yang kental, walaupun begitu hatinya selembut sutra. Dia seorang laki-laki yang berdedikasi tinggi, membesarkan anak-anaknya dengan kerja keras, tak pernah mengenal lelah, selalu beraktivitas. Masih teringat 18 tahun yang lalu, dia teriak, dia marah sama tulang karena ga mau nyapu halaman, yah..begitulah gayanya kalo marah sama anak-anaknya. Jangankan teriak, bicara biasa aja suaranya udah menggelegar. Walaupun begitu kasih sayangnya tak terkatakan seberapa besarnya pada anak-anaknya. Namun sikapnya sangat bertolak belakang apabila dia berhadapan dengan cucu-cucunya, dia dibanjiri kata-kata yang lemah lembut, walaupun tetap diucapkan dengan suara keras dan logat bataknya. Mungkin beda rasanya ketika jadi seorang bapak dan seorang kakek. Itulah opung, opung yang selalu bersemangat, opung yang selalu tersenyum, opung yang suka bawel kalo sesuatu tidak sama dengan keinginannya, opung yang lucu, opung yang ke rumah cucunya cuma gara-gara cucunya baru pulang dari asrama sekolah di luar kota padahal dia lagi sakit, opung yang kalo makan ga bisa kalo nasinya kering, malah pernah ngebanjirin nasinya pake air putih gara-gara opung perempuan ga masak makanan yang berkuah. Ya itulah opung, opungnya ratih. Selamat jalan pung, ratih sayang sama opung. Ya Allah ampunilah dosa-dosanya, terimalah ia di sisiMu, tempatkanlah ia di tempat yang baik, lapangkanlah ia dalam kuburnya, terangilah kuburannya ya Allah,sabarkanlah keluarga yang ditinggalkannya agar ikhlas menerima kepergiannya, amin.