Gara2 baca blog2 orang, jadi terinspirasi, monggo dibaca jangan lupa tinggalin komentarnya yah, terima kasih semua..cup cup

Semangatku adalah dirimu, entah sejak kapan kalimat ini terpatri dalam benakku, mungkin saat kau mulai mencintaiku dengan tulus, mencintai diriku apa adanya walau masih menuntut, malam itu aku menangis, menangis karena teleponmu tak kunjung datang, namun hati kecil berkata untuk menunggu, ketika menunggu dan masalah lain muncul aku semakin berharap telepon itu akan berdering nyaring, memanggilku untuk menjawab seseorang disana yang kucinta, tapi telepon itu tak kunjung berdering, aku terdiam, terduduk di depan komputer, menyalakan televisi, mematikannya lalu mulai menonton film melalui komputerku, sesaat aku menikmati, lupa akan segala apa yang terjadi semenit lalu, dan tiba-tiba air mataku tak terbendung lagi, aku menangis, menangis tersedu, sambil berteriak namun kutahan, telepon itu juga tak kunjung berdering, teringat kata-katamu sore tadi bahwa kau belum memikirkan hal itu, aku terdiam, diam-diam tanpa sepengetahuanmu air mataku mengalir membaca tulisan itu, tapi aku tahan karena aku masih di kantor, sekarang disini di kamar sepi yang sebenarnya bukan hakku lagi karena uang kos belum terbayar, hatiku menjerit, harapanku sirna, tapi kemudian aku sadar, dua pasang mata itu berharap padaku, dua pasang mata yang sempat kulupa karena kealpaan diriku sebagai anak manusia yang tak luput dari dosa, aku hina, malam itu saat aku pun berbaring sambil menunggu telepon itu berdering dan akhirnya terlelap sampai aku bangun karena kamar itu, kamar yang bukan milikku bergetar, sesaat aku bangun namun tidur karena peluh dan lelah yang menghampiriku dari tadi pagi ditambah tangisan malamku membuatku tak berdaya, namun akhirnya telepon itu berdering, suara diseberang sana panik dan berkata,’gempa!’, aku pun bangun dari tidurku, berpindah ke kamar bawah tempat temanku terlelap, aku menumpang tidur disana, pagiku bangun karena telepon berdering lagi tapi bukan dari dia melainkan dari ibu ku, orang yang sangat mencintaiku, dan surgaku ada ditelapak kakinya, walau aku tau sekarang aku tak mungkin masuk surga, lalu aku meraih telepon itu melihat jam yang tertera menunjukkan aku harus bergegas karena masih harus kerja, aku pun berangkat dengan semangat yang telah hilang dan mata yang sembab, aku kerja, dan inilah akhir cerita kita, saat kalimat mu muncul di layar komputerku, entah kenapa aku begitu tapi agar kau tau alasanku, aku masi mencintaimu, lebih dari yang kau tau, masih mengharapkanmu berbaring di tempat tidurku sambil memeluk kulit dan tulangku, hari ini aku berkata sesuatu yang membuatmu kecewa, kecewa akan diriku, kau mau tau alasanku, alasanku adalah kebahagianmu, hidupku penuh dengan peluh, tak ada tawa yang mengalir dalam diriku kini, dan dirimu pun ingin meraih bintang di langit ke tujuh aku yakin kau akan mendapatkannya dan aku berdoa untuk itu, hidup denganku hanya berbagi peluh biarlah dirimu bahagia walaupun perkataanku siang tadi menghilangkan rasa cintamu padaku, yang penting bagiku bisa melihatmu dari jauh, melihatmu bahagia karena kesuksesanmu, melihatmu memiliki istri yang shalehah, anak-anak yang patuh dan lucu-lucu, dan biarkanlah aku melihatmu dari jauh dengan tubuhku yang jauh dari sempurna ini, dan ketika kau membaca ini, kau akan tau alasanku, dan biarkanlah aku tetap melihatmu dari jauh, aku bahagia karena kau bahagia, dan inilah cinta yang tak perlu saling memiliki, dan kau perlu tau sampai kapan pun hanya kau cintaku, dan sekarang aku pun berlalu demi cinta yang lain lagi, cinta dua pasang mata itu, mata ayah dan ibuku